Kamis, 08 Januari 2015

Riya

Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka. Syaitan tidak henti-hentinya memalingkan manusia, menjauhkan mereka dari keikhlasan. Salah satunya adala melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari setiap hamba.
Yang dimaksud riya’ adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya’ yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang tenar. Riya’ dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik.
Hukum Riya’
Riya’ ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika sesorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya’ yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah berfirman tentang keadaan mereka (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’:142).
Adapun yang kedua adalah riya’ yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya’ ini terjadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya’ jenis seperti ini merupakan perbuatan syirik asghar.[1]
Jadi, hukum asal riya’ adalah syirik asghar (syirik kecil). Namun, riya’ bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar (syirik besar) dalam tiga keadaan berikut :
1.       Jika seseorang riya’ kepada manusia dalam pokok keimanan. Misalnya seseorang yang menampakkan dirinya di hadapan manusia bahwa dia seorang mukmin demi menjaga harta dan darahnya.
2.      Jika riya’ dan sum’ah mendominasi dalam seluruh jenis amalan seseorang.
3.       Jika seseorang dalam amalannya lebih dominan menginginkan tujuan dunia, dan tidak mengharapkan wajah Allah.[2]
Ibadah yang Tercampur Riya’
Bagaimanakah status suatu amalan ibadah yang tercampu riya’? Hukum masalah ini dapat dirinci pada beberapa keadaan. Jika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia, maka ibadah tersebut batal dan tidak sah. Adapun jika riya’ atau sum’ah muncul di tengah-tengah ibadah maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berhubungan antara awal dan akhirnya, misalnya ibadah sholat, maka riya’ akan membatalkan ibadah tersebut jika tidak berusaha dihilangkan dan tetap ada dalam ibadah tersebut. Jenis yang kedua adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila seseorang bershodaqoh seratus ribu, lima puluh ribu dari yang dia shodaqohkan tercampuri riya’, maka shodaqoh yang tercampuri riya’ tersebut batal, sedangkan yang lain tidak.[3]
Jika Demikiain Keadaan Para Sahabat, Bagaimana dengan Kita?
Penyakit riya’ dapat menjangkiti siapa saja, bahkan orang alim sekali pun. Termasuk juga para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Keteguhan iman mereka sudah teruji, pengorbanan mereka terhadap Islam sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam masih mengkhawatirkan riya’menimpa mereka. Beliau bersabda, Sesuatu yang aku khawatrikan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: ‘(contohnya) adalah riya’ ”[4]
Dalam hadist di atas terdapat pelajaran tentang takut kapada syirik. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir kesyirikan menimpa sahabat muhajirin dan anshor, sementara mereka adalah sebaik-baik umat. Maka bagaimana terhadap umat selain mereka? Jika yang beliau khawatirkan menimpa mereka adalah syirik asghar yang tidak mengeluarkan dari Islam, bagaimana lagi dengan syirik akbar? Wal ‘iyadzu billah !! [5]
Lebih Bahaya dari Fitnah Dajjal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “[6]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa riya’ termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya’ terkait dengan niat dan termasuk amalan hati, yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Tidak ada seseorang pun yang mengetahui niat dan maksud  seseorang kecuali Allah semata. Hadist di atas menunjukkan tentang bahaya riya’, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir riya’ menimpa para sahabat yang merupakan umat terbaik, apalagi terhadap selain mereka. Kekhawatiran beliau lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya’ ini. Fitnah Dajjal yang begitu berbahaya, hanya menimpa pada orang yag hidup pada zaman tertentu, sedangkan bahaya riya’ menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat.[7]
Berlindung dari Bahaya Riya’
Berhubung masalah ini sangat berbahaya seperti yang telah dijelaskan di atas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk melindungi diri kita dari syirik besar maupun syirik kecil. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).”[8]
Tidak Tergolong Riya’
Al Imam an Nawawi rahimahullah membuat suatu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’ “. Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?: Beliau menjawab, “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin “ (H.R. Muslim 2642).
Di antara amalan-amalan yang tidak termasuk riya’ adalah :
1. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya’. Ibnu Qudamah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut  berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”
2. Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”[9]
3. Memakai pakaian yang bagus. Hal ini tidak termasuk riya’ karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah (semut kecil).” Lantas ada seseorang yang berkata,“Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan indah (bagus) ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” [10]
4. Menampakkan syiar Islam. Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti haji, umroh, shalat jama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya’ ketika menampakkan ibadah tersebut, karena di antara keawajiban yang ada harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain. Karena hal tersebut merupakan bentuk penampakan syiar-syiar islam.[11]
Ikhlas Memang Berat
Pembaca yang budiman, ikhlas adalah satu amalan yang sangat berat. Fitnah dunia membuat hati ini susah untuk ikhlas. Cobalah kita renungkan setiap amalan kita, sudahkah terbebas dari maksud duniawi? sudahkah semuanya murni ikhlas karena Allah Ta’ala? Jangan sampai ibadah yang kita lakukan siang dan malam menjadi sia-sia tanpa pahala. Sungguh, ikhlas memang berat. Urusan niat dalam hati bakanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “ Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”[12]. Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Wallahu a’lam.

Sumber : Adika Mianoki


Retail Bisnis

A.     PENGERTIAN RETAIL
Retail adalah kegiatan jual beli baik barang maupun jasa secara langsung kepada konsumen. Konsumen yang membeli barang atau jasa tersebut akan langsung menggunakannya (bukan untuk kepentingan bisnis). Salah satu contoh retail bisnis adalah minimarket yang memiliki arti Secara Kata merupakan gabungan dari kata, “mini” dan “market”. Mini berarti “kecil” sedang market berarti “pasar”. 
Jadi minimarket adalah sebuah pasar yang kecil, atau diperjelas menjadi sebuah tempat yang kecil tapi menjual barang-barang bervariatif dan lengkap seperti di dalam pasar contohnya adalah alfamart.
B.     KEBIJAKAN PEMERINTAH
a.       Perda Kota Bandung No. 2 Tahun 2009 Tentang Penataan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kota Bandung. menyatakan bahwa persyaratan minimarket adalah:
1. Berjarak minimal 0,5 km dari pasar tradisional dan 0,1 km dari usaha kecil sejenis yang terletak di pinggir jalan kolektor/arteri
2. Di pinggir jalan lingkungan dengan luas gerai sampai dengan 200m persegi, berjarak minimal 0,5 km dari pasar tradisional dan usaha kecil sejenis
3. Setiap pengelola pusat perbelanjaan dan toko modern wajib melaksanakan kemitraan dengan usaha kecil
4. Kemitraan wajib dilaksanakan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan tempat usaha, penerimaan produk dan dilaksanakan berdasarkan perjanjian tertulis dengan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan.
5. Waktu pelayanan dimulai pukul 10.00-22.00, kecuali ada ijin
khusus dariWalikota.
b.      Pasal 13 Perda Kota Bandung No. 2 Tahun 2009 ditetapkan pula klasifikasi kriteria perdagangan, klasifikasi toko modern hingga klasifikasi sitem penjualan dan jenis barang dagangan. Pasal 18 hingga Pasal 20 dibahas mengenai aturan lokasi dan jarak tempat usaha perdagangan sesuai klasifikasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
c.       pasal 22 ayat (1), menyebutkan bahwa “pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern wajib memiliki Izin Usaha Perdagangan,” Sedangkan pada ayat (2), Izin Usaha Perdagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
1)     Izin Usaha Pengelolaan Pasar Tradisional (IUP2T) untuk pasar . .tradisional;
2)     Izin Usaha Pusat Perbelanjaan (IUPP) untuk pertokoan, mall, plaza, dan pusat perdagangan;
3)     Izin Usaha Toko Modern (IUTM) untuk minimarket, supermarket, Departemen store, Hypermarket dan grosir yang berbentuk perkulakan.” (Perda Kota Bandung no. 2 tahun 2009)
d.      Keputusan Presiden (Kepres) No. 118/2000 tentang Perubahan dari Keputusan Presiden No. 96/2000 mengenai Sektor Usaha yang Terbuka dan Tertutup dengan Beberapa Syarat untuk Investasi Asing Langsung.
e.       Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern
f.        Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.420/MPP/Kep/10/1997 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan
g.        Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan Menteri Dalam Negeri No.57 dan 145/MPP/Kep/1997 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan.
h.       Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.12/MDAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata CaraPenerbitan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba
C.      DAMPAK POSITIF DENGAN ADANYA ALFAMART DARI SEGI EKONOMI DAN SOSIAL
a.       Memberikan kemudahan bagi konsumen untuk mencari barang yang diinginkan.
b.      Memberikan kepuasan bagi konsumen dari pelayanannya.
c.       Memberikan kenyamanan pada konsumen dalam berbelanja.
d.      Menyediakan berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari.
e.       Memberikan diskon/potongan harga bagi konsumen.
f.        Produk yang ditawarkan bervariasi dan lengkap mulai dari kebutuhan pokok seperti sembako sampai pada kebutuhan tambahan seperti makanan ringan. Bahkan dibeberapa minimarket juga menyediakan pengisian pulsa dan penjualan produk lainnya.
g.       Pelayanan yang ramah, pramuniaga bersikap sopan dan penuh perhatian. Pramuniaga selalu siaga ketika pembeli membutuhkan bantuan apapun.
h.       Pembeli dibebaskan memilih dan mengambil barang yang akan dibeli sesuai kebutuhannya dan kemudian baru membayar kepada kasir.
i.         Selalu memberikan harga promo disetiap periode.
j.         Daftar harga yang menjadi unggulan (biasanya harga termurah) dipampang di depan toko sehingga pembeli merasa tertarik meskipun bisa jadi sebelumnya tidak ingin membeli. Selain itu juga promosi juga dilakukan melalui penyebaran brosur yang berisi daftar produk dan harga yang memudahkan pembeli untuk merencanakan pembelian di rumah serta mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan dalam berbelanja.
k.       Penataan barang yang rapi dan dibedakan perproduk sehingga memudahkan pembeli dalam berbelanja.
l.         Situasi yang dilengkapi AC serta ruangan yang luas menyebabkan pembeli merasa nyaman dalam berbelanja.
m.    Kasir lebih dari satu, dengan adanya kasir lebih dari satu pembeli tidak perlu lama mengantri ketika akan melakukan pembayaran.
n.      Letak minimarket dekat dengan pemukiman sehingga warga sekitar lebih mudah berbelanja karena berdekatan dengan rumah, sealin itu pembeli dapat lebih berhemat karena tidak perlu ongkos menuju tempat belanja.
o.      Menciptakan Lapangan Kerja yg banyak sehingga mampu menyerap tenaga kerja yg ada meskipun tidak begitu signifikan.
p.      Membentuk pekerja yang inovatif dan kreatif
q.      Menambah pemasukan kas negara dengan cara mengekspor barang ke luar negeri
r.       Membuat pekerja muda lebih semangat dan mandiri.


D.     DAMPAK NEGATIF DENGAN ADANYA ALFAMART DARI SEGI SOSIAL DAN EKONOMI
a.       Dalam minimarket dengan system waralaba tidak disediakan fasilitas pembelian secara kredit.
b.      Minimarket waralaba tidak dapat menyediakan barang-barang secara tertentu sebelum ada ijin dari franchisor. Sehingga pembeli tidak dapat memesan atau membeli barang tertentu seperti elpiji dan minyak tanah yang juga merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat.
c.       Membuat masyarakat tergoda dan berbelanja di luar batas kemampuannya.

E.      PENGARUH ADANYA ALFAMART TERHADAP PASAR TRADISIONAL
a.       Mempempengaruhi jumlah konsumen yang berbelanja di pasar tradisional.
b.      Mempengaruhi tingkat pendapatan penjual di pasar tradisional..
c.       Mempengaruhi keberlangsungan usaha dan penurunan omzet penjualan.


Selasa, 22 Juli 2014

Larangan berpacaran menurut islam


“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32). 
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An Nur : 30) 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur : 31) 
Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lidah adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim) 
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”(HR. Bukhori dan Muslim) 
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad). 
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386
“Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” (HR. Bukhori) 
“Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik , Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad) 
Telah berkata Aisyah ra, “Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah) 
“Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram” (HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani) 
“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad) 
Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang [lawan-jenis] yang [membangkitkan syahwat] tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR. Muslim) 
Begitu banyak kan larangan tentang Pacaran? Jadi masih berani Pacaran? [globalmuslim/www.al-khilafah.org]

Sejarah perjuangan Rasulullah SAW


pres-19-1Sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah rentetan sejarah hidup yang panjang yang mengandungi pelbagai pengajaran dan pendoman untuk umat Islam. Sejarah kehidupan atau sirah baginda Rasulullah SAW dihiasi dengan kisah perjuangan yang tidak mengenal erti jemu, sebuah hakikat pengorbanan yang sangat tinggi, pergantungan dan kepasrahan sepenuhnya kepada Allah SWT, dan contoh panduan yang hidup untuk dijadikan ikutan sepanjang zaman.
Inilah ketetapan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, bahawa segala apa yang dialami oleh Rasulullah SAW adalah contoh panduan kepada umat Islam. Keperibadian dan kehidupan baginda umpama “manual” panduan untuk dilihat dan dijadikan contoh oleh seluruh manusia dan seharusnya kita fahami bahawa baginda Rasulullah SAW adalah sebaik-baik contoh dan ikutan.

Firman Allah SWT yang bermaksud :
“ Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingati Allah.”
( Al- Ahzab : 21)
Rasulullah SAW telah berjaya membina satu ketamadunan yang hebat dan gemilang. Di dalam buku yang ditulis oleh seorang penulis barat iaitu Michael H. Hart, beliau telah meletakkan Nabi Muhammad SAW di tempat pertama dalam senarai 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah manusia, malah ia mengalahkan Isaac Newton dan Jesus Christ sendiri.
Bukunya The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, menyatakan bahawa satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW menjadi insan berpengaruh adalah kerana kualiti yang ada pada diri baginda. Kualiti yang dimaksudkan ialah kualiti integriti dan kualiti kompetensi. Inilah yang menjadikan kehidupan baginda sangat signifikan kepada manusia lain terutamanya kepada para sahabat di bawah didikan Baginda.
Di dalam Islam, kualiti ini kita namakan ia sebagai akhlakul karimah atau budi pekerti yang mulia. Bermula dari kualiti ini akhirnya Rasulullah SAW berjaya membentuk dan membina satu tamadun yang sangat gemilang dan dihormati seantero dunia. Sudah pasti terdapat satu rahsia yang perlu dilihat secara terperinci terhadap proses pembentukan ketamadunan Islam yang diasaskan oleh baginda Rasulullah SAW kerana di dalam hanya masa yang singkat iaitu 23 tahun, Baginda berjaya mengasaskan dan membentuk satu ketamadunan yang mampu bertahan selama 1400 tahun!
Justeru itu, melihat dan meneliti sejarah perjuangan Rasulullah SAW adalah menjadi keutamaan kita di dalam menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh dan murrabi di dalam perjuangan menegakan Islam.
Sejarah Sebelum Islam
Sebelum zaman kedatangan Islam, kehidupan masyarakat arab jahiliyah pada ketika itu berada dalam kehidupan yang porak peranda dan hilang aspek nilai kemanusiaannya. Masyarakat arab ketika itu, berada dalam keadaan yang jahil  disebabkan  sistem kemasyarakatan yang rosak dan penindasan sesama manusia itu berlaku secara berleluasa. Kerosakan ini berlaku dalam pelbagai aspek kehidupan termasuklah dari segi ekonomi, perundangan dan juga sosial kehidupan. Di dalam buku sejarah, para ahli sejarahawan menamakan zaman ini sebagai zaman jahiliyah atau zaman kegelapan.
Pada dasarnya, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki sifat-sifat positif seperti berani, setia, ramah, sederhana, cintakan kebebasan dan menghormati tetamu. Mereka juga mempunyai kelebihan-kelebihan lain seperti ingatan yang kuat dan pandai bersyair. Namun kerana sifat jahiliyah yang menyelimuti kehidupan mereka, segala kebaikan itu tenggelam dalam sifat keburukan. Mereka berpaling daripada kebenaran, menyembah berhala yang pelbagai jenis rupa dan bentuk, melanggar hak orang lain dan menindas sesama manusia.
Kejahilan ini terus menyelubungi masyarakat jahiliyah sehingga kedatangan Nabi Muhammad SAW yang akhirnya telah mengubah kehidupan mereka. Cahaya keislaman itu telah menyinari kehidupan mereka yang gelap kepada kehidupan yang terang benderang dan akhirnya mereka dapat hidup dengan aman serta bahagia dipimpinan Rasulullah SAW.
Sejarah Semasa Zaman Rasulullah SAW
Namun, selepas kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan membawa risalah kebenaran kepada masyarakat arab, kehidupan mereka berubah sama sekali. Risalah Islam yang benar ini telah mengubah kehidupan yang penuh dengan kegelapan kepada kehidupan yang disinari dengan cahaya keimanan kepada Allah SWT. Proses dakwah baginda Rasulullah SAW di Makkah telah menekankan kepada aspek keimanan kepada Allah SWT sebagai teras dan tunjang pembinaan masyarakat Islam yang tulen dan kukuh.
Dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah seruan dan ajakan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Rasulullah SAW membina ummah Islam bermula dengan diri baginda seorang diri secara terancang sehinggalah lahirnya satu kelompok muslim yang beriman kepada Allah SWT dengan seluruh jiwa dan raga mereka. Mereka inilah generasi awal yang menerima didikan Rasulullah SAW secara terus-menerus sehinggalah mereka digelar sebagai “ sebaik-baik generasi” di dalam sejarah peradaban manusia.
Firman Allah SWT di dalam surah Ali-Imran : 110 yang bermaksud :
“ Kamu ( umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kerana (kamu) menyuruh berbuat yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya ahli kitab yang beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Di dalam usaha baginda mengajak kepada Islam, baginda telah melakukan proses pembinaan individu muslim secara terancang dan proses ini mengambil masa yang begitu lama. Proses pembentukan ini menekankan kepada proses penanaman aqidah dan keyakinan kepada Allah SWT secara mendalam. Proses pembinaan generasi unggul ini adalah berteraskan kepada proses pendidikan Islamiyah dan dakwah islamiyah secara tersusun dan terancang.
Rasulullah SAW telah menggunakan beberapa kaedah untuk melaksanakan usaha dakwah ini. Antara perkara yang utama yang dilakukan ialah dengan menghimpunkan hati-hati dan jiwa-jiwa yang bersih serta ikhlas untuk diproses dengan didikan keimanan kepada Allah SWT. Pemilihan individu ini tidak berlaku secara kebetulan, tetapi ia dilakukan secara sedar dan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Proses penanaman aqidah ini berterusan sehinggalah jumlah generasi awal di bawah didikan Rasulullah SAW mulai bertambah dari satu masa ke satu masa. Dakwah peringkat rahsia ini mempunyai penekanan yang memfokuskan kepada proses didikan hati dan pembinaan individu muslim secara kolektif. Pendidikan yang dijalankan oleh baginda Rasulullah SAW adalah proses yang mensasarkan kepada pendidikan hati. Pendidikan hati ini ditekankan dengan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, keikhlasan dan ihsan kepada Allah SWT sehinggalah melahirkan suatu keperibadian yang murni dan berakhlak mulia.
Proses pendidikan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW adalah tunjang kepada pendidikan yang mendidik jiwa dan hati untuk patuh dan mengesakan Allah SWT. Pada peringkat ini, sumber rujukan baginda hanyalah Al-Quran semata-mata. Ini bertujuan untuk memastikan para sahabat generasi awal mendapat satu kefahaman yang benar-benar bersih dan tulen berkaitan Islam. Penekanan kepada sumber rujukan yang satu ini boleh digambarkan melalui satu sirah Rasulullah SAW. Pernah satu ketika Saidina Umar Al-Khattab membawa satu kitab yang dikatakan sebagai kitab Taurat untuk dijadikan bahan didikan Islam. Pada ketika itu, merah muka baginda Rasulullah SAW, dan sambil berkata : “ Sekiranya, Nabi Musa ada pada ketika ini, nescaya beliau juga mengikut aku.”
Zaman Ketamadunan Islam
Zaman pemerintahan Islam sesudah wafatnya Rasulullah SAW diteruskan dengan gagasan pemerintan sistem Khalifah Islamiyah iaitu kepimpinan Khulafa’ Ar Rasyidin, Kerajaan Bani Umaiyah, Kerajaan Bani Abbasiyah dan Kerajaan Bani Uthmaniyah. Zaman ketamadunan ini melalui satu perjalanan pembinaan, perkembangan dan kejatuhan yang sangat panjang.  Sejarah telah menunjukan peradaban ketamadun Islam pernah mencapai zaman kegemilangannya sehingga seluruh dunia mengenali dan mengakui kehebatan Ketamaduanan Islam.
Pengasas kerajaan Bani Umaiyyah ialah Umaiyyah bin Abdul Syams,seorang pemimpin kaum Quraish yang kaya dan berpengaruh.Pada zaman ini, perkembangan penyebaran Ilmu berkembang pesat terutamanya pada Zaman Khalifah Umar Abdul Aziz.Penghasilan teknologi baru seperti Seni Ukir, sistem pengasing benda asing melalui aplikasi tarikan graviti dan juga kinci air.
Kemudian sistem pemerintan Islam diteruskan dengan pemerintahan kerajaan Abbasiyah pada 763 M.  Penubuhan Kota Baghdad  sebagai Pusat pemerintahan Khalifah Bani Abbasiyah telah menjadi dimensi perubahan kerajaan Islam ketika itu.Pada tahun 786 M merupakan zaman Keemasan Bani Abbasiyah ( Pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid dan Anaknya Al-Makmum).
Ketika itu ilmu berkembang pesat dan masyarakat Islam sangat dihormati kerana kemajuan yang dikecapi oleh mereka. Pembinaan Baitul Hikmah telah merancakan lagi aktiviti penyebaran ilmu dalam peradaban tamadun Islam. Baitul Hikmah telah menjadi  pusat penyebaran dan pengumpulan Ilmu yang mengandungi setengah juta jilid buku dan 36 buah perpustakaan. Dengan jumlah buku yang banyak ini, pihak pengurusan baitul hikmah yang memerlukan 120-400 ekor unta untuk pindahkan kesemua buku-buku itu ke suatu tempat. Pada era ini, lahirlah tokoh-tokoh ilmuan  Islam yang terkenal seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusdh dan ramai lagi.
Zaman keruntuhan Islam
Setelah melalui sejarah ketamadunan yang panjang, umat Islam mengalami kemunduran dan perpecahan di kalangan mereka. Akhirnya ketamadunan Islam mengalami saat-saat keruntuhan dan kehancuran yang amat memilukan hati dan jiwa umat Islam seluruh dunia. Jika dilihat dan diamati, antara faktor keruntuhan ini adalah berpunca daripada Umat Islam itu sendiri.

Bertarikh pada 3 Mac 1924, ia merupakan tarikh kesedihan dan saat yang memilukan ummat Islam seluruh dunia kerana pada tarikh ini runtuh dan berakhirnya sebuah empayar Islam yang selama ini memayungi pemerintahan kerajaan Islam di seluruh dunia. Keruntuhan kerajaan Turki Uthamaniyah memberi tamparan yang hebat kepada umat Islam dan ia telah memberi kesan yang sangat besar kepada sejarah umat Islam dalam sejarah dunia.
Dalam kajian sejarah, punca-punca keruntuhan yang paling ketara ialah masalah perebutan kuasa di kalangan Khalifah Islam pada ketika itu, sikap sambil lewa pemerintah yang lebih sukakan hiburan serta mengejar kemewahan dan sekaligus menunjukan kepimpinan yang sangat lemah. Selain daripada itu, masalah konflik dalaman sesama umat Islam dan konflik luaran daripada musuh Islam itu sendiri, menambahkan lagi masalah kepimpinan Islam pada zaman tersebut untuk terus mengekalkan kegemilangan Islam.
Suasana Ummat Islam Kini
Ketamadunan Islam telah melalui satu rentetan sejarah yang panjang bermula pada zaman Rasulullah SAW sehinggalah kepada zaman pemerintahan Khalifah Uthmaniyah yang berakhir dengan kejatuhan sistem khalifah islamiyah. Sejarah ketamadunan islam yang panjang ini, memberi kesan yang sangat mendalam kepada pembinaan, pembentukan dan keberadaan ketamadunan Islam sehingga kini.
Kini, kita dapat lihat keadaan ummat Islam yang semakin hari semakin lemah dan tiada perpaduan di kalangan mereka sendiri. Kelemahan inilah yang banyak memberi kesan kepada kemajuan dan kemunduran umat Islam pada hari ini. Sekiranya, tiada usaha-usaha yang bersepadu ke arah pemulihan dan kebangkitan semula ketamadunan Islam ini, nescaya umat Islam akan terus berada dalam krisis perpecahan dan kehancuran.
Negara Islam secara umumnya dan umat Islam secara khususnya, sangat lemah dari segi pelbagai bidang dan aspek. Jika kita nyatakan satu per satu bidang yang ada, tiada satu pun Negara Islam yang mampu menandingi Negara-negara barat yang ada di dunia ini. Hampir semua aspek umat Islam lemah. Antaranya, aspek ekonomi, pendidikan, keilmuan, pembangunan Negara, dan sebagainya. Satu contohnya mudah, dari segi ekonomi dan pembangunan, tidak ada satu pun Negara Islam yang tersenarai dalam negara yang maju dan hanya beberapa buah Negara Islam sahaja yang terletak dalam senarai Negara yang membangun.
Penyelesaian Ke Arah Kebangkitan Islam
Justeru itu, usaha ke arah pemulihan ini harus dimulakan dan diteruskan sehinggalah umat Islam kembali kepada acuan yang sebenar seperti yang digariskan oleh Allah SWT. Sekiranya kita kembali kepada sejarah yang dinyatakan di atas, kita akan dapati formula untuk membina dan membentuk sesuatu generasi dan tamadun itu telah pun ditunjukan serta dilaksanakan oleh baginda Rasulullah SAW.
Seharusnya, jalan, kaedah, cara dan juga panduan yang ditunjukan oleh Rasulullah SAW dijadikan kaedah utama dalam membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Perkara inilah yang seharusnya menjadi perkara utama yang kita tekankan dan fokuskan sekiranya kita ingin membina semula generasi Islam yang dapat mengembalikan kegemilangan Islam.
Fokus penekanan Rasulullah SAW adalah membangunkan sumber manusia itu sendiri. Inilah modal utama pembangunan dan pembinaan ketamadunan Islam. Peringkat awal perkembangan Islam, tapak asas kepada tamadunan Islam yang dibina oleh Rasulullah SAW adalah penanaman ‘aqidah yang jitu dan kukuh di dalam jiwa dan hati para sahabat dan pengikut Rasulullah SAW. Kekuatan aqidah inilah yang menjadi tonggok utama kepada penyebaran dan perjuangan Rasulullah SAW di dalam mengerakan jentera dakwah selepas era dakwah rahsia kepada dakwah terbuka.
Seharusnya, pembinaan sumber manusia bermula dengan aspek aqidah dan kepercayaan ini. Ia boleh diserapkan melalui proses pendidikan kerohanian dan ini wajar dicontohi dan dilaksanakan oleh Ummat Islam di dalam kehidupan seharian mereka.
Seharusnya inilah penghayatan yang perlu dilakukan oleh Ummat Islam dalam mencontohi perjuangan Rasulullah SAW. Sunnah yang paling besar yang ditinggalkan oleh baginda Rasulullah SAW adalah perjuangan dan penyebaran ajaran Islam itu sendiri. Lantas, segala kehidupan yang ditunjukan oleh baginda mestilah difahami, dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan seharian secara penuh sedar dan faham. Inilah kejayaan utama yang harus dilihat secara serius dan seterusnya dilakukan sebagai agenda utama dalam kehidupan kita

Pentingnya berhijab bagi wanita muslim


Berjilbab itu Penting Bagi Muslimah “Jika engkau berjilbab dan ada yang mempermasalahkan akhlakmu, katakan kepada mereka bahwa antara jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab adalah murni perintah Allah; wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk. Di lain hal, akhlak adalah budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, melainkan karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab.”

Allah SWT dalam Al Qur’an Surat an-Nur ayat 31 telah berfirman, yang artinya:
“ Dan katakanlah kepada wanita yang beriman:” Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung  ke dadanya…”
Dalam firman di atas, telah jelas bahwasannya Allah telah memerintahkan kaum wanita untuk mengenakan jilbab atau hijab. Maka sudah selayaknya kaum wanita taat kepada perintah Allah SWT salah satunya dengan mengenakan hijab atau jilbab yang sesuai dengan aturan Islam.
Keutamaan Mengenakan Jilbab atau Hijab
Jilbab telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan bagi umat Islam, baik dari segi nilai religius maupun fungsi sebagai penutup aurat bagi Muslimah. Adapun keutamaan dalam mengenakan jilbab terdapat dalam firman Allah SWT surat Al Ahzab ayat 59 (yang artinya):  
“ Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sesungguhnya firman di atas merupakan bukti bahwa dalam hukum Islam, perempuan sangatlah mendapatkan perhatian. Adanya perintah bagi perempuan untuk mengenakan jilbab bukanlah untuk mengekang kebebasan akan tetapi sebagai pelindung agar tidak tergelincir pada lumpur kemaksiatan.
Mewaspadai Fashion Era Globalisasi
Dalam era yang seolah membuat dunia tanpa sekat ini, umat Islam perlu waspada akan maraknya fashion yang  jauh dari nilai-nilai Islami. Banyak wanita muslim yang terjebak dalam arus modernisasi. Berbagai fashion yang jauh dari unsur Islami banyak ditawarkan kepada umat Islam. Mulai dari mode pakaian yang terbuka menampakkan perhiasannya, lalu mode busana yang sangat menerawang sampai kepada mode busana sempit yang menonjolkan sex appeal-nya. Kini banyak yang mengenakan jilbab bukan sekedar mematuhi perintah agama akan tetapi jilbab juga menjadi unsur gaya, modis, elegan, dan tampak vulgar serta seksi. Padahal sudah jelas bagaimana hukum Islam mengatur busana atau pakaian yang selayaknya dipakai oleh kaum wanita. Di sisi lain, hal ini telah dikabarkan sebelumnya oleh Rasulullah saw. dari Abu Hurairah r.a,  Beliau bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Berjilbab atau Berhijab yang Baik dan Benar    
1. Niat berjilbab hanya kerena Allah SWT.
2. Jilbab atau hijab yang baik adalah yang dapat menutup aurat wanita secara sempurna. Adapun yang termasuk aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
3. Memakai jilbab atau hijab yang tidak transparan.
4. Memakai jilbab atau hijab yang longgar dan tidak menampakkan bentuk tubuh
5. Menghindari pemakaian model jilbab kepala yang menyerupai punuk unta
Dari uraian di atas, nampaknya sudah jelas bagaimana pentingnya berjilbab bagi wanita muslim. Berjilbab merupakan kewajiban yang telah Allah tetapkan untuk wanita muslim yang telah baligh. Maka sudah sepatutnya wanita muslim mengenakan jilbab yang sesuia dengan aturan Islam.
=Berjilbab sejatinya adalah bentuk ketaatan wanita muslim kepada Allah SWT=

TATU KULSUM
(Kastrat LDK Al Hurriyyah IPB)

Copyright @ 2013 Rinrin miatri.